Serunya bertugas ke Lhokseumawe saat konflik GAM memanas

Tahun 2002-2003 bisa dibilang adalah kondisi yang sedang memanas di bumi serambi Mekah, wilayah paling barat Indonesia ini tengah ada perlawanan kelompok GAM yang ingin memerdekakan Aceh. Saya beruntung bisa mendapat tugas untuk meliput kondisi disana selama sebulan, walau keluarga dan teman-teman di kantor sempat menunjukkan raut muka khawatir akan keselamatan saya dan tim saya. Tujuan kami adalah kota Lhokseumawe, sebuah kota penting di Aceh yang menghadap pantai timur, kota yang dilalui kendaraan yang akan menuju Banda Aceh. Disini juga ada instalasi penting LNG Arun yang memasok gas dalam jumlah banyak untuk diekspor.

      Dari Belawan mau naik kapal

Perjalanan kesana ditempuh cukup unik, yaitu melalui kota Medan. Dari Medan, peralatan liputan untuk siaran langsung diangkut dengan mobil box sewaan, plus sebuah genset bensin yang kami beli di Medan. Uniknya kami memilih naik kapal dari Belawan ke Lhokseumawe, supaya lebih cepat dan menghindari cegatan GAM di jalan. Kapal yang kami naiki adalah kapal besar kelas antar pulau, banyak truk isi sembako yang ikut naik di kapal, dan juga banyak TNI ikut naik untuk menjaga kapal seisinya. Berangkat selepas magrib, kami menghabiskan malam di laut dan tiba di Lhokseumawe terlalu dini sehingga kapal belum berani merapat. Jadilah kami menunggu sampai subuh dengan kondisi mual karena terombang-ambing di kapal yang melepas jangkar.

      Arun LNG

Saya tidak akan membahas kegiatan kerja dan dimana kami menginap, namun yang jelas saat itu tim kami bersamaan dengan tim liputan lain memiliki agenda yang sama yaitu memberitakan kejadian terkini di daerah Lhokseumawe dan sekitarnya. Saat itu saya ingat, reporter senior RCTI Ersa Siregar juga berada di kota yang sama, sampai akhirnya beliau ditangkap GAM dan cukup lama menghilang sampai akhirnya dikabarkan meninggal. Mobil yang kami sewa diberi bendera khusus sebagai tanda PERS dengan harapan tidak mengalami gangguan di jalan.

      Narsis di Tuktuk

Satu hal yang saya cermati, walau tengah dalam situasi konflik, kota Lhokseumawe nampak kondusif. Masyarakatnya beraktifitas normal, suasana juga terlihat santai dan tidak ada raut wajah tegang. Namun saat malam tiba memang suasana berangsur sepi. Rasa tegang mulai muncul apabila kami bertemu kendaraan TNI lalu lalang dengan kondisi siaga, biasanya dengan senapan mesin otomatis yang sudah siap pakai berada di atas mobil mereka. Kekuatiran yang paling sering terlintas di benak adalah apabila bila sampai terjebak diantara adu senjata, akan sulit menghindar. Untungnya kami tidak sampai mengalami situasi seperti itu..

Di waktu luang kami pun sempat mencoba menikmati hari, seperti mencoba kuliner disana dan juga sesekali jalan-jalan keliling kota. Agak sulit mencari jajanan yang cocok, bahkan jus disana yang laris justru jus timun, sesuatu yang jarang orang pesan kalau di Jakarta. Kuliner yang umum selain mie aceh, juga seafood terutama kepiting yang banyak dijumpai di pinggir jalan kalau malam. Karena lagi musim mobil remote-control, beberapa teman iseng membeli dan memainkan adu cepat di jalanan sekitar hotel. Seru juga, kadang anak-anak setempat ikut menonton bahkan ikut lomba. Pokoknya walau dalam suasana tegang, tugas sebulan di sana harus dinikmati dan bisa dikenang..

*sayangnya kamera digital saya rusak beberapa hari sebelum berangkat ke Aceh, sehingga saya terpaksa membeli kamera film seadanya untuk sekedar ada dokumentasi. Foto-foto di atas adalah repro dari foto yang sudah dicetak, maka itu tidak terlihat tajam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s