Nyari smartphone flagcheap (flagship yang cheap) : dapetnya Asus Zenfone 5

Ya ya, saya paham.. tiba-tiba saya posting sesuatu yang sifatnya sudah usang, yaitu membahas ponsel keluaran tahun lalu, ada apa nih? Sebelumnya maaf kalau karena kesibukan dan aktivitas kuliah, saya jadi jarang update personal blog ini lagi. Lalu ceritanya karena ponsel saya baterainya sudah jelek, saya mau cari ponsel baru, ya di kisaran 2-3 juta saja lah. Setelah baca dan tonton di sana sini, tibalah keputusan pada Realme 3 Pro, atau opsi keduanya ya Redmi Note 7.

R3PvsRN7

Yang awalnya bikin galau pas mau memilih..

Rupanya kedua ponsel diatas saat saya cari (Juni 2019) termasuk ghoib alias sulit ditemui di pasaran. Redmi Note 7 yang 3/32GB kosong, padahal itu murah sekali di 2 jutaan saja. Realme 3 Pro yang 4/64GB juga kosong. Galau lah saya.. Sampai tiba saatnya dapat info kalau Samsung A50 sudah turun harga, dari 4 jutaan jadi 3 jutaan. Wah ini menarik pikir saya, tapi ternyata harga di berbagai tempat beda-beda, umumnya rata-rata 3,7 juta ternyata, masih diluar budget. Lagipula Samsung A50 ini kabarnya suaranya kurang baik, dan layar sentuh di layar justru suka gagal buat unlock.

A50-main

Menggoda, tapi harga belum masuk budget..

Sebenarnya saya masih suka dengan ponsel lawas saya yaitu Lenovo K4 Note. Dulu saya beli bahkan saat sudah diluncukan K5 dan K6, sehingga harganya turun drastis jadi 2 juta saja. Yang saya suka (dan jadi prasyarat saya dalam memilih ponsel) dari K4 Note ini adalah layar Full HD plus Gorilla glass, ditambah kalau bisa yang ada LED notifikasi dan speaker stereo (bahkan di K4 Note sudah Dolby Atmos). Soalnya saya penikmat multimedia, bukan penyuka game, jadi soal prosesor yang MTK atau internal yang cuma 16GB saya kompromikan, saat itu. Ditambah lagi si K4 Note ini sudah ada NFC, keren kan..

lenovo-k4-note

Dulu saya beli K4 Note ini karena speknya termasuk oke dengan harga terjangkau

Nah kini saya pikir kalau pun saya beli Realme 3 Pro atau Redmi Note 7, memang saya dapat ponsel dengan prosesor kencang, kamera bagus dan layar oke kekinian (dengan bentuk poni yang kecil). Tapi rasanya kok sayang kalau ponsel pengganti Lenovo saya harus absen di LED notif, suara stereo dan NFC yang kadang diperlukan buat cek sisa kartu tol. Maka ditengah kebingungan tiba-tiba seperti ada angin segar berupa kabar gara-gara mulai masuknya Asus Zenfone 6, maka yang Zenfone 5 jadi turun harga dari 4,2 juta ke 3 juta pas.. Karena lupa-lupa ingat dengan spek Zenfone 5 ini, saya langsung cek tentang ponsel ini dan jadi kurang selera saat tahu ponsel ini ternyata sudah agak lawas (diluncurkan pertama di awal tahun lalu), dan baterainya ‘cuma’ 3300 mAh.

Tapi karena saya tidak ada kerjaan, iseng-iseng saya baca lagi lebih jauh tentang Zenfone 5 ini, dan lama-lama mulai muncul minat. Saya pikir ponsel ini sudah memenuhi semua yang saya mau lho, layarnya, suara stereo-nya, LED notif, dan NFC. Soal poni yang agak besar, kapasitas baterai dan kecepatan prosesor yang biasa saja saya pikir masih dalam batas wajar lah. Seiring saya cari tahu lebih lanjut, saya makin kagum karena spek Zenfone 5 ini ternyata tidak sekedar spesifikasi angka (kuantitatif) tapi juga secara kualitas dari setiap spesifikasinya begitu tinggi, bahkan disetarakan dengan ponsel flagship, misal :

  • layar LCD nya ternyata punya panel warna kelas atas, sekilas mirip Amoled lah..
  • kameranya ternyata punya sensor berukuran 1/2.5 inci (sensor ponsel lain umumnya 1/3 inci) sehingga hasil foto lebih baik, plus ada OIS lho..
  • prosesor SD636 yang kurang kencang ternyata bisa di AI boost (meski cuma buat naikin angka benchmark aja)
  • speakernya ternyata terdiri dari 6 magnet yang nge-bass dan bersuara bulat (tidak cempreng), dan stereonya dengan memanfaatkan earpiece yang mereproduksi zona high (treble), cerdas nih..
  • baterainya ternyata sudah fast charging dengan charger bawaan yang relatif mungil, mengisi baterai hanya 1 jam cukup, ditambah dengan port USB tipe C yang modern dan aman jangka panjang
  • sensor-sensor yang lengkap (termasuk NFC), oleophobic coating (layar tidak mudah meninggalkan bekas sidik jari), sertifikasi DTS audio, bisa 4K video, bisa foto file RAW (DNG) dengan mode pro, plus high res 48 MP yang dibentuk dari interpolasi sensor 12 MP.

 

en5

Akhirnya pilih ini… Asus Zenfone 5 (2018)

Spesifikasi, desain dan kualitas produk yang sulit dicari kekurangannya ini makin sulit ditolak saat unit 4/64 GB dijual 3 juta pas saja. Maka tanpa pikir panjang lagi saya lupakan untuk meminang Realme 3 Pro, meski tidak dalam semua hal Asus Zenfone 5 ini menang, tapi secara price vs performance sulit dilawan dan semua checklist yang saya mau ada semua di Asus ini. Setelah unit ini ada di tangan, langsung saya update dari Android 8 (Oreo) ke Android 9 (Pie), jadi meski ponsel tahun lalu tapi Asus masih mau memberikan update Android ke versi yang terbaru. Semoga awet ya..

Contoh hasil foto dari awal-awal mencoba Asus Zenfone 5 ini :