Lumix GX9 : long-term review

Meski dari awal hadirnya kamera mirrorless saya selalu update dan rutin me-review, tapi Panasonic Lumix GX9 menjadi kamera mirrorless pertama yang saya beli, tepatnya di Agustus 2019. Saya mulai menekuni hobi fotografi sejak tahun 2001 (dengan beberapa kamera saku Kodak, Fuji, Nikon bahkan Lumix juga), lalu di 2007 mulai serius dengan DSLR Nikon D40, lanjut di 2011 beli DSLR Nikon D5100 dan di 2015 beralih ke DSLR Canon 70D. Saya berencana membuat sebuah long-term review untuk Lumix GX9 ini melalui blog pribadi ini untuk catatan saya namun bebas dibaca juga oleh siapapun.

Spek dasar :

  • sensor : Micro Four Thirds 20 MP, tanpa low pass filter
  • 5 axis sensor shift IS, 4 stop
  • 9 fps, 1/4000-60 detik
  • ISO 200-25.600
  • jendela bidik 2,7 juta dot, 0,7x
  • LCD 3 inci, 1,2 juta dot, lipat dan touch sensitive
  • 4K video 30 fps, full HD 60 fps
  • baterai DMW-BLG10E, bisa di charge via USB
  • 450 gram

Segmentasi :

Lumix GX9 dari namanya dimaksudkan untuk menjadi penerus GX8, tapi kenyataannya justru lebih seperti penerus GX85 karena banyak kesamaan antar keduanya. Malah GX8 itu cuma diambil beberapa hal baiknya saja seperti jendela bidik lipat, roda kompensasi eksposur yang ditumpuk dengan mode dial, serta tuas mode fokus. Selain dari tiga itu, banyak hal bagus di GX8 yang tidak diteruskan di GX9 seperti bodi logam yang weathersealed, jendela bidik OLED yang jernih dan layar LCD lipat putar yang enak buat selfie atau vlogging.

Tinjauan fisik :

Kamera ini berdesain ala rangefinder, artinya bagian atasnya rata, tidak ada tonjolan viewfinder seperti DSLR. Sebagai gantinya, jendela bidik elektronik (EVF) tersedia di kiri atas. Biasanya orang pakai mata kanan untuk melihat ke EVF itu, tapi saya kebiasaan pakai mata kiri dan alhasil hidung saya selalu mengenai layar LCD. Saya suka EVF yang bisa dilipat ke atas, unik dan membantu di keadaan tertentu.

LX9 punya dua roda dial, satu melingkari tombol shutter (diputar dengan telunjuk), dan satu lagi di belakang (diputar dengan jempol). Satu acungan jempol saya adalah adanya roda kompensasi eksposur -ini melanjutkan desain di GX- sangat memudahkan dan desainnya juga cerdik, dia ditumpuk dengan roda mode dial sehingga efisien dalam penggunaan tempat.

Satu lagi yang berguna adalah tuas mode fokus AF-S AF-C dan MF. Ini juga ditemui di GX8 dan banyak kamera serius seperti G9 dan GH5. Bila ditanya apa yang tidak ada, maka disini tidak ada tuas untuk drive mode, jadi untuk mengganti ke continuous shoot, 4K photo atau self timer perlu menekan tombol panah bawah.

Lumix GX9 banyak dikritik orang karena dua hal, LCD yang tidak bisa lipat ke depan, dan tidak ada mic-input. Jadi hanya ada dua port itupun di sisi kanan semua, yaitu HDMI dan USB untuk mengisi daya. Pintu port kanan ini punya desain yang smart juga, penutupnya seperti pintu geser yang tidak mengganggu saat dibuka. Mengisi daya dari baterai habis perlu waktu cukup lama, hampir 2 jam, karena charger yang diberikan adalah 1A saja. Saya tidak mencoba memakai charger punya ponsel yang 2A karena takut baterai kamera akan cepat rusak.

Built-in flash di GX9 ini dayanya kecil tapi lumayan daripada tidak ada sama sekali. Dia bisa dipaksa untuk menghadap atas seperti bounce-flash meski nyaris tidak ada gunanya juga. Sebagai gantinya gunakan flash eksternal di hotshoe yang disediakan, dan saya suka hotshoe ini ditutup dengan penutup yang rata dan sewarna dengan bodi. Flash bisa sinkron dengan shutter speed up to 1/200 detik yang cukup mengejutkan, karena kamera lain umumnya di 1/160 atau 1/180 detik.