Seminar fotografi di PEPC Expo 2017

Saat ini sedang berlangsung event lomba foto PEPC Expo 2017 bertempat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila, dan salah satu agenda utamanya nanti adalah pameran foto dan seminar tentang Bisnis Fotografi pada 20 September 2017 dengan saya sebagai pembicaranya. Acara ini turut disponsori oleh Tamron Indonesia.

PEPC 2017

Advertisements

Tips memotret cityscape malam dari atap gedung

Tinggal di kota besar sayang rasanya kalau tidak dimanfaatkan untuk hunting cityscape. Deretan gedung bertingkat dengan berbagai bentuk dan cahayanya saat gelap akan menarik untuk difoto. Sayangnya tidak mudah juga untuk bisa foto cityscape, misal di Jakarta kita perlu cari tahu dimana lokasi yang ideal untuk memotret. Tentunya kita perlu naik ke tempat yang tinggi juga, bisa dari balkon, dari jendela kamar (kantor, hotel atau apartemen) atau bahkan dari atap gedung (rooftop). Waktu yang ideal biasanya sore hari hingga malam mulai menjelang.

IMG_3438 web.jpg

Kali ini saya ingin berbagi tips untuk memotret cityscape yang baik. Untuk lokasinya saya anggap anda sudah dapat spot yang ingin difoto dan titik memotretnya ya.

Tips pertama adalah persiapan yang lebih matang. Tripod yang kokoh, wajib untuk mencegah kamera goyang akibat terpaan angin. Kamera yang goyang akan membuat foto tidak tajam, sebaik apapun kameranya, lokasinya, settingnya, kalau foto shake/goyang ya sia-sia semua. Lalu tali kamera sebaiknya terpasang untuk diikat ke tangan kita bila posisi kamera beresiko jatuh. Ingat, keselamatan penting dalam foto khususnya bila kita ada di ketinggian, jangan sampai ada benda apapun jatuh ke bawah dan bisa mencederai orang di bawah. Persiapan lain seperti pelindung hujan, senter dan bekal konsumsi juga perlu diperhatikan.

IMG_5780 crop

Tips kedua adalah kuasai setting kameranya. Setting sore saat masih agak terang, tentu berbeda dengan setting saat senja dan malam. Pahami mode apa yang cocok dipakai, seperti apa kombinasi eksposur yang pas, bagaimana mengatur fokusnya, WB-nya, hingga mode memotretnya pakai apa (remotecable release atau touch shutter). Saat sudah gelap, kadang eksposur lebih enak dilihat saat tidak di nol melainkan di minus, misal -1. Karena gelapnya langit akan terekam dengan lebih alami.

Canon 60D Top tut
 
Tips ketiga kenali plus minus dengan setiap fokal lensa yang akan dipakai. Lensa lebar biasanya enak untuk mengambil banyak gedung sehingga kesannya luas, tapi lensa lebar akan memberi perspektif yang berlebihan dan akan membuat distorsi pada foto. Lensa yang sedikit lebih tele akan cocok untuk mengambil detail dari satu dua obyek utama, tapi kurang dramatis. Ada baiknya membawa beberapa lensa untuk coba-coba. Foto yang terdistorsi untungnya bisa dikoreksi dengan editing, tapi untuk kebutuhan pro ada lensa khusus seperti lensa Tilt Shift atau lensa PC.

Tamron-10-24mm-web

Tips terakhir adalah pemilihan waktu yang ideal. Saat masih agak terang masalahnya adalah lampu-lampu gedung belum menyala. Saat sudah malam masalahnya adalah langit gelap dan hitam total. Idealnya adalah saat peralihan dari sore ke malam dimana langit masih agak biru dan lampu gedung (serta lampu mobil) mulai menyala. Itu kerap disebut blue-hour dan akan jadi lebih menarik hasilnya.
 

Memang foto cityscape termasuk lebih tinggi kesulitan teknisnya dibanding foto lain, tapi pada dasarnya sama saja yaitu persiapan yang baik, pengetahuan teknis yang benar, pemilihan lensa dan komposisi yang pas dan sedikit editing untuk mempercantik hasil akhirnya. Tentu yang utama adalah banyak latihan dan dari situ akan didapat banyak pengalaman, yang akan jadi bekal berguna untuk masa depan.

Beberapa contoh foto cityscape yang saya ambil di Jakarta :

Bawa gear apa buat ke Jepang nanti?

Well, kira-kira itulah sebagian pertanyaan yang sering berkecamuk di benak saya belakangan ini. Momen yang penting ini tentunya sayang kalau tidak direncanakan dengan baik, khususnya dari sisi fotografinya. Rencana ke Tokyo dsk yang penuh dengan kehidupan modern, juga ada rencana memotret gunung Fuji, perlu didukung gear yang cocok dan spesifik kan?

Namanya traveling, apalagi ke tempat yang agak jauh, perlu cermat memilih gear yang ringkas. Konsep lensa zoom travel yang praktis tentu lebih disukai daripada lensa fix misalnya. Juga aksesori pendukung seperti travel tripod, camera bag dan sebagainya.

Solusi ideal untuk travel, sensor cukup oke, lensa fleksibel dan bukaan besar

Solusi ideal untuk travel, sensor cukup oke, lensa fleksibel dan bukaan besar, ada RAW, hotshoe dan bisa rekam video

Idealnya saya mendambakan gear yang yang punya ukuran tidak besar, tapi baterainya tahan lama. Sensornya at least ukuran 1 inci semestinya cukup, dengan jangkauan lensa dari 24mm hingga 200mm misalnya, seperti Sony RX10 (gambar diatas) atau Lumix FZ1000. Anda mungkin beranggapan sensor 1 inci itu kurang, dan harus pakai APS-C untuk kualitas. Ya betul juga sih, tapi sensor 1 inci sudah cukup bagus menurut saya, dan membuat lensa jadi tidak terlalu besar ukurannya.

Ya walau idealnya gear yang dibawa adalah seperti yang saya tulis diatas, bukan berarti saya mau bawa itu, lha saya tidak punya gear seperti itu kok (dulu seseorang pernah meminjamkan saya SonyRX10 untuk direview). Realistisnya ya bawa gear yang ada saja, sesuaikan dengan kebutuhan disana.

Minimalist gear(s) to go

Minimalist gear(s) to go

Inilah list rencana saya buat ke Jepang bulan April nanti :

  • main camera : Canon EOS 70D, untuk landscape dan citiscape, juga bila perlu main flash atau ISO tinggi, dipadukan dengan lensa travel yang praktis yaitu Sigma 17-70mm f/2.8-4 OS HSM, dan untuk bermain perspektif akan saya bawa lensa mungil nan ringan Canon EF-S 10-18mm IS update : setelah dipertimbangkan lagi saya butuh gear yg ringan karena bakal banyak jalan, jadi terpaksa 70D ditinggal saja, huhu.. sori Canon.
  • street camera : Samsung NX300, dipasangkan dengan 12-24mm dan 50-200mm, juga ditujukan untuk rekam klip video pendek dokumentasi perjalanan, hybrid AF-nya akan membantu auto fokus yang baik saat rekam video update : saya bawa tambahan berupa lensa 18-55mm untuk lensa kit dan 45mm f/1.8 untuk main bokeh
  • pocket camera : Panasonic Lumix LF1, si mungil praktis dengan lensa 28-200mm yang cukup baik hasil fotonya untuk dokumentasi seperti papan petunjuk jalan, pintu masuk stasiun, makanan dsb
  • tripod : Fotopro travel tripod aja, ringan dan kecil, masih mampu menahan bobot 70D dengan lensa
  • Flash : Shanny SN600N yang kekuatannya besar, flash lama yang dulu saya beli untuk Nikon tapi bisa menyala secara manual di 70D update : Shanny pun mesti ditinggal untuk menghemat beban, jadi pakai flash mungil bawaan NX300 saja
  • Tas kamera : untuk menyimpan all gears dari berangkat sampai pulang saya mengandalkan Kata backpack LPS-216DL yang ringan dan praktis, tapi saya harus membawa serta juga tas selempang Lowepro Format untuk membawa gear dari hotel lalu jalan-jalan dan kembali ke hotel lagi
  • Baterai : untuk Canon 70D perlu bawa 2 baterai LPE6 cadangan, lalu satu baterai cadangan untuk Samsung NX300 dan dua powerbank untuk jaga-jaga menghadapi issue baterry drain di NX300.

Itulah idealisme vs realita versi saya, dilema ini tentu sering dirasakan oleh banyak orang yang ingin traveling kan? Yang penting enjoy the trip.

Gear is good but vision is better.

Don’t judge me by my gear, haha..