Lumix GX9 : long-term review

Meski dari awal hadirnya kamera mirrorless saya selalu update dan rutin me-review, tapi Panasonic Lumix GX9 menjadi kamera mirrorless pertama yang saya beli, tepatnya di Agustus 2019. Saya mulai menekuni hobi fotografi sejak tahun 2001 (dengan beberapa kamera saku Kodak, Fuji, Nikon bahkan Lumix juga), lalu di 2007 mulai serius dengan DSLR Nikon D40, lanjut di 2011 beli DSLR Nikon D5100 dan di 2015 beralih ke DSLR Canon 70D. Saya berencana membuat sebuah long-term review untuk Lumix GX9 ini melalui blog pribadi ini untuk catatan saya namun bebas dibaca juga oleh siapapun. Continue reading “Lumix GX9 : long-term review”

Nyari smartphone flagcheap (flagship yang cheap) : dapetnya Asus Zenfone 5

Ya ya, saya paham.. tiba-tiba saya posting sesuatu yang sifatnya sudah usang, yaitu membahas ponsel keluaran tahun lalu, ada apa nih? Sebelumnya maaf kalau karena kesibukan dan aktivitas kuliah, saya jadi jarang update personal blog ini lagi. Lalu ceritanya karena ponsel saya baterainya sudah jelek, saya mau cari ponsel baru, ya di kisaran 2-3 juta saja lah. Setelah baca dan tonton di sana sini, tibalah keputusan pada Realme 3 Pro, atau opsi keduanya ya Redmi Note 7.

R3PvsRN7

Yang awalnya bikin galau pas mau memilih..

Rupanya kedua ponsel diatas saat saya cari (Juni 2019) termasuk ghoib alias sulit ditemui di pasaran. Redmi Note 7 yang 3/32GB kosong, padahal itu murah sekali di 2 jutaan saja. Realme 3 Pro yang 4/64GB juga kosong. Galau lah saya.. Sampai tiba saatnya dapat info kalau Samsung A50 sudah turun harga, dari 4 jutaan jadi 3 jutaan. Wah ini menarik pikir saya, tapi ternyata harga di berbagai tempat beda-beda, umumnya rata-rata 3,7 juta ternyata, masih diluar budget. Lagipula Samsung A50 ini kabarnya suaranya kurang baik, dan layar sentuh di layar justru suka gagal buat unlock.

A50-main

Menggoda, tapi harga belum masuk budget..

Sebenarnya saya masih suka dengan ponsel lawas saya yaitu Lenovo K4 Note. Dulu saya beli bahkan saat sudah diluncukan K5 dan K6, sehingga harganya turun drastis jadi 2 juta saja. Yang saya suka (dan jadi prasyarat saya dalam memilih ponsel) dari K4 Note ini adalah layar Full HD plus Gorilla glass, ditambah kalau bisa yang ada LED notifikasi dan speaker stereo (bahkan di K4 Note sudah Dolby Atmos). Soalnya saya penikmat multimedia, bukan penyuka game, jadi soal prosesor yang MTK atau internal yang cuma 16GB saya kompromikan, saat itu. Ditambah lagi si K4 Note ini sudah ada NFC, keren kan..

lenovo-k4-note

Dulu saya beli K4 Note ini karena speknya termasuk oke dengan harga terjangkau

Nah kini saya pikir kalau pun saya beli Realme 3 Pro atau Redmi Note 7, memang saya dapat ponsel dengan prosesor kencang, kamera bagus dan layar oke kekinian (dengan bentuk poni yang kecil). Tapi rasanya kok sayang kalau ponsel pengganti Lenovo saya harus absen di LED notif, suara stereo dan NFC yang kadang diperlukan buat cek sisa kartu tol. Maka ditengah kebingungan tiba-tiba seperti ada angin segar berupa kabar gara-gara mulai masuknya Asus Zenfone 6, maka yang Zenfone 5 jadi turun harga dari 4,2 juta ke 3 juta pas.. Karena lupa-lupa ingat dengan spek Zenfone 5 ini, saya langsung cek tentang ponsel ini dan jadi kurang selera saat tahu ponsel ini ternyata sudah agak lawas (diluncurkan pertama di awal tahun lalu), dan baterainya ‘cuma’ 3300 mAh. Continue reading “Nyari smartphone flagcheap (flagship yang cheap) : dapetnya Asus Zenfone 5”

Kamera Lumix G9 resmi diperkenalkan di Indonesia

Kamera mirrorless semakin naik daun. Bila kita familiar dengan merk mirrorless seperti Sony, Fuji atau Olympus, maka jangan lupakan satu lagi yaitu Panasonic. Bila Sony mungkin lebih populer di kancah kamera full frame, dan Fuji (juga tak lupa ada Canon EOS M) lebih memilih menyasar segmen APS-C maka Olympus dan Panasonic tetap setia dengan sistem Micro 4/3. Ya, sensor yang dianggap kecil ini kadang membuat orang ragu saat memilih sistem Micro 4/3, padahal sensor 4/3 itu kecil-kecil cabe rawit lho.

PANASONIC-G9-200MM-GRIP

Lumix G9 dengan battery grip dan lensa telefoto

Keuntungan sensor 4/3 ada beberapa macam. Pertama desain/bentuk kamera bisa dibuat lebih kecil. Kedua lensanya juga bisa lebih kecil, khususnya lensa tele. Ketiga, dengan 2x crop factor maka lensa tele bisa jadi 2x lebih tele tanpa perlu teleconverter. Kekurangan sensor 4/3 dibanding yang lebih besar, adalah hasil foto di ISO tinggi yang lebih noise. Kalau memang begitu adanya, ya menurut saya hindari saja pakai ISO tinggi. Boleh dengan pakai lensa yang bukaan besar, pakai shutter lambat (tripod atau IS) atau tambah lampu (flash atau lampu studio).

a2dd9dea-295d-428b-8773-73aaa996e64a._CR0,0,1464,600_SX1464__

Di lini kamera Lumix, Panasonic punya beberapa produk seperti seri G yang menjadi seri utama mereka (sejak 2007 dulu ada G1, lalu seterusnya kini ada G7, G85 dan G9 yang kita bahas ini), ada juga seri GH yang lebih oke untuk video (GH4, GH5, GH5s), seri GX untuk street / ala rangefinder (GX7, GX8, GX85, GX9) dan seri GF untuk casual, famili atau pelajar (GF7, GF8, GF9). Bahkan Lumix G7 saat ini pun masih diminati karena fiturnya sudah oke dan harga terjangkau, plus bisa 4K video. Hadirnya G85 di tahun 2015 menambahkan fitur IS di sensor dan bodi weathersealed, lalu G9 kini menjadi kamera flagship untuk fotografi dengan bodi mantap, kinerja tinggi dan fitur paling advanced.

panasonic-lumix-g9-11 Continue reading “Kamera Lumix G9 resmi diperkenalkan di Indonesia”