Repotnya jadi fotografer (di jaman) modern

Dulu jadi fotogafer itu repot. Mulai urusan memilih film (ASA dan jumlah isinya), tidak bisa tahu hasilnya sebelum dicetak, dan minim referensi untuk belajar. Jadi fotografer di jaman sekarang jauh lebih enak, kamera sudah canggih, fotonya bisa langsung dilihat, bisa diedit dan mudah untuk berbagi. Kini siapapun jadi fotografer, bahkan dengan kamera ponsel saja sudah bisa merasa jadi fotografer. Benarkah demikian? Lalu kenapa judul artikel ini malah mengatakan jadi fotografer jaman sekarang itu repot? Mari kita simak bersama mengapa.

Cobalah untuk kembali memikirkan apa esensi dari fotografi, tanpa embel-embel digital. Dari dulu fotografi itu secara esensial adalah seni mengambil gambar dengan cahaya. Disini pada dasarnya kita perlu menguasai pemahaman tentang fundamental fotografi yaitu eksposur, yang menjadi acuan foto yang pas, over atau under. Paham eksposur saja belum aman, perlu diketahui bahwa fotografi dari dulu juga berkaitan dengan menangkap momen, timing dan waktu terbaik untuk memotret.

Seringkali dalam foto kita ingin bercerita tentang sesuatu, maka berlatih mendapat foto di momen yang tepat perlu refleks, pengalaman, intuisi juga keberuntungan. Fotografi landscape juga perlu memikirkan waktu yang ideal untuk dapat cahaya yang diinginkan. Hal mendasar lain dalam fotografi adalah memahami jarak fokus dan mengatur ruang tajam (dan mendapatkan bokeh), dahulu bahkan lensa masih manual fokus tapi fotografernya dituntut harus bisa menguasai tekniknya supaya tidak buang-buang film akibat fotonya tidak fokus.

Nikon setting

Setting kamera modern perlu pemahaman akan banyak hal

Di jaman digital seperti sekarang, hal-hal diatas tetap perlu dikuasai oleh kita, walau kamera sekarang tentu sudah serba otomatis, seperti auto eksposur dan auto fokus. Sayangnya saat kita ingin memahami cara kerja kamera modern malah bisa jadi pusing sendiri karena banyaknya setting/menu kamera dan buku manual yang tidak mudah dipahami. Padahal untuk memaksimalkan kamera kita (walau kamera kita sudah otomatis), kita tetap perlu memahami tentang berbagai setting, semisal metering dan auto fokus (termasuk servo fokus dan memilih titik/area fokus). Setiap kebutuhan foto pun bisa jadi perlu setting yang berbeda, misal untuk foto aksi atau liputan kita perlu set auto fokus ke kontinu servo, dan drive mode ke shoot kontinu juga. Tapi untuk kebutuhan foto landscape kita cukup single servo AF dan drive bisa pakai self timer 2 detik. Ini saja sudah memusingkan kan?

Saya ingin kembali ke fundamental yang tadi dibahas. Anda tentu sering melihat foto yang bagus, baik dalam bentuk cetak maupun di internet. Apa yang membuat anda menilai foto itu bagus? Menurut teori fotografi untuk mendapat foto yang bagus tentu perlu memperhatikan berbagai aspek (sesuai tujuan fotografinya) seperti pemilihan subyek utama, komposisi (dan pemilihan fokal lensa), angle kamera dan juga kejelian fotografernya dalam melihat. Hal ini diistilahkan art of seeing, atau vision. Fotografer juga perlu jeli melihat arah cahaya, warna, momen dan tentunya komposisi yang menarik. Lebih lanjut lagi tuntutan tambahan adalah perlu bisa berimajinasi sehingga bisa membayangkan bentuk, skala, persepektif hingga cerita dalam foto yang ingin diambilnya. Itulah alasannya mengapa, kadang-kadang kita menemukan ada orang yang dengan kamera biasa saja bisa mengambil foto yang enak dilihat. Continue reading “Repotnya jadi fotografer (di jaman) modern”

Opini saya dan contoh foto kamera mirrorless Samsung NX3000

Samsung NX3000 adalah kamera mirrorless penerus NX2000 yang mengisi segmen terbawah lini NX, dijual kurang dari 6 juta rupiah sudah dengan lensa kit 16-50mm powerzoom. Kamera 20 MP ini kini mengadopsi tren layar LCD lipat ke atas sehingga mendukung hobi pecinta selfie. Perubahan dari NX2000 ke NX3000 cukup banyak, seperti desain yang berubah total, kini lebih terkesan retro dengan tambahan ada roda mode kamera P/A/S/M. Bila di NX2000 penggunaan kamera umumnya memakai layar sentuh, maka di NX3000 tidak ada lagi sistem layar sentuh tapi diberikan berbagai tombol konvensional di belakang. Sensor gambar di Samsung NX3000 bertipe APS-C sehingga crop factor sensornya adalah 1,5x. Seperti kamera Samsung NX lainnya, NX3000 punya fitur WiFi, bisa rekam full HD video dan ISO max hingga 25.600 serta bonus lampu kilat kecil yang bisa dilepas.

Sam-NX-3000

Foto produk dari web

Sya berkesempatan mencoba kamera mungil ini cukup lama, sehingga bisa menguji dengan lengkap semua kelebihan dan kekurangan kamera ini.

Fakta-fakta NX3000 :

  • kamera kecil tapi sensornya besar (APS-C CMOS 20 MP, crop factor 1,5x), hasil foto setara DSLR
  • lensa kit berkualitas baik, fokal mulai dari 16mm yang lebih wide dibanding pesaing
  • fungsi dasar lengkap : ISO 25.600, burst cepat, WB lengkap, video full HD stereo, ada HDR
  • tombol cukup banyak : Fn, Custom, AF, drive, dan roda di belakang dan roda P/A/S/M di atas
  • fungsi Wifi yang lengkap
  • scene mode berguna (waterfall, light trace, sunset dsb) dan sweep panorama yang fungsional

Opini personal saya :

  • Segmentasi : kamera ini cocok untuk keluarga, travelling dan everyday/general shooters
  • Desain : desain keren, tidak terlihat murahan (walau berada di segmen termurah seri Samsung NX)
  • Fotografi : memotret dengan kamera kecil ini tidak mencolok/menarik perhatian sehingga cocok untuk candid, street photo, human interest dan kebutuhan lain yang tidak ingin menjadi perhatian publik
  • Bodi : grip terasa nyaman dan mantap walaupun kamera ini kecil, bodi tidak licin
  • Lensa kit : zoom dengan lensa powerzoom memang harus sabar, lebih seperti kamera saku
  • Baterai : bentuk baterai mirip ponsel Galaxy, ketahanan baterai cukup awet, charge baterai di dalam kamera melalui kabel USB sehingga bisa pakai powerbank (tapi sulit untuk mencharge baterai cadangan), bisa charge sambil memotret juga
  • Ruang simpan : kartu memori berjenis micro SD yang kecil sekali ukurannya ini membuat saya merasa takut hilang kalau dilepas
  • Flash : memang harus pasang flash bawaan bila perlu pakai lampu kilat, karena tidak ada built-in flash, tapi saya memanfaatkan hot shoe untuk memasang flash eksternal manual bahkan radio trigger bisa bekerja tanpa masalah
  • Performa : cukup responsif, khususnya saat shoot kontinu (ada fitur burst yang sangat cepat dan sekali tekan akan mengambil 20 foto), tapi termasuk sedang saat shot-to-shot, suara shutter cukup lembut, kinerja auto fokus termasuk sedang-sedang saja, kadang bisa salah fokus bila obyek utama kalah kontras dibanding latarnya
  • Operasional : walau tidak ada layar sentuh tapi mengganti setting cukup mudah, bisa menekan tombol Fn dan memutar roda
  • Hasil foto : hasil foto termasuk baik, detil dan dynamic range baik, noise di ISO tinggi setara kamera APS-C lain
  • Dynamic Range : ada fitur Smart Range (seperti ADL di Nikon atau DRO di Sony) dan ada in-camera HDR tapi kurang optimal dibanding pesaing (misal Sony A5000) karena tidak ada pilihan level (1 stop, 2 stop dsb); tapi lumayan  lah kamera semurah ini sudah bisa HDR
  • Video : rekaman video sudah bagus dengan full HD stereo, bisa zoom tanpa suara motor ikut terekam, ada fitur Pause yang tidak ditemui di kamera lain, sayangnya semua setting eksposur diatur otomatis.

Hal yang paling saya sukai :

Pengoperasian mudah : ada roda P/A/S/M, ada roda kendali di belakang, ada tombol Fn, ada juga tombol i-Fn di lensa, ada tombol Custom (untuk akses pintas ke fungsi lain) :

  • tombol Fn akan menampilkan setting utama di LCD, lalu kita bisa mengganti banyak hal dengan menggunakan tombol empat arah yang sekaligus merupakan roda belakang
  • saya suka tombol i-Fn di lensa, dengan menekan tombol ini saya bisa memilih mau ganti setting apa (ISO, WB, kompensasi eksposur dsb) hanya dengan memutar ring di lensa
  • tombol Custom saya program jadi Plus RAW, sesuatu yang tidak saya temui di kamera lain (saya biasa memotret pakai JPG, tapi kalau saya akan memotret obyek yang bagus dan akan diedit lebih lanjut, saya cukup tekan Custom dan foto akan diambil dalam format JPG dan RAW)

Auto ISO, bahkan di mode manual : saya biasa pakai Nikon DSLR dan sudah terlanjur suka dengan fitur Auto ISO-nya, hingga akhirnya fitur ini ditiru oleh Canon dan Fuji. Di kamera ini juga ada Auto ISO. Dengan memilih ISO Auto, maka kamera akan menentukan ISO yang dibutuhkan untuk menjaga eksposur tetap terang. Bagusnya lagi, di kamera ini saya bisa memilih minimum shutter speed, jadi saya bisa set berapa lambat kamera boleh menurunkan shutter speed hingga akhirnya baru menaikkan ISO (berguna di mode P atau A). Bahkan fitur Auto ISO ini bisa dipakai di mode Manual, jadi saya tinggal pilih mode M, lalu pilih bukaan yang saya mau (misal f/8), lalu pilih shutter speed yang saya mau (misal 1/60 detik) dan bila suasana kurang cahaya maka supaya hasilnya tidak gelap kamera bisa menaikkan ISO hingga batas maksimum yang kita tentukan.

Kekurangan yang masih tergolong wajar (dibanding kakaknya, Samsung NX300) :

  • layar LCD tidak touch-sensitive, tidak bisa di flip ke bawah juga
  • tidak ada phase-detect AF
  • tidak ada sensor cleaning

Kalau lebih suka versi youtube, nonton aja disini :

Baiklah, kita simak saja contoh-contoh fotonya (klik foto untuk membuka ukuran aslinya di flickr) :

Lensa 45mm f/1.8 dengan bukaan maksimal, masih terlihat tajam (bravo untuk lensa ini) :

SAM_0984

Telaga Remis, lensa kit 16-50mm :

SAM_0580

Gerbang Keraton Kanoman Cirebon :

SAM_0271

Dalamnya Keraton Kanoman Cirebon :

SAM_0245

Mode HDR :

SAM_0065

Mode waterfall :

SAM_0416

Sweep panorama :

SAM_0712

Burst mode :

SAM_0539

Potret pakai lensa 45mm :

SAM_0843

Kucing, lensa 45mm juga :

SAM_0981

Street photography, diedit jadi hitam putih :

SAM_1070

Liputan human interest :

SAM_1098

Toko obat di pasar lama Tangerang :

SAM_1135

Pak tua dan sepedanya :

SAM_1220

Kursi tua dan kucing :

SAM_1228

Anak-anak :

SAM_1246

SAM_1231

Pintu :

SAM_1373

Sunda kelapa in BW :

SAM_1313

Jatiluhur :

SAM_0757

Bikin perahu :

SAM_0705

Lantern, ISO 3200 :

SAM_1438

SAM_1416

SAM_1400

Maninjau, dengan lensa 50-200mm :

Maninjau view

Monyet, lensa 50-200mm :

Monkeys

Slow speed 13 detik :

Jam Gadang at nite