Sekilas tentang situ Cisanti

Situ Cisanti, sebuah situ atau danau di selatan Bandung yang mungkin jarang didengar orang, padahal tempat ini lumayan menarik untuk foto-foto ataupun menikmati pemandangan alam. Terletak di selatan Bandung, sekitar 30km di selatan Ciparay, masuk ke wilayah Kertasari, hanya sedikit lagi menuju perkebunan teh Santosa dan Malabar. Bila datang dari arah Pangalengan, perlu waktu satu jam untuk sampai kesini melewati jalan perkebunan yang rusak, namun sepanjang jalan dihiasi pemandangan kebun teh yang indah.

Yang unik dari situ Cisanti adalah banyak pohon Eukaliptus, ada petilasan Dipati Ukur, dan menjadi titik nol sungai Citarum, sebuah sungai yang membelah selatan Bandung dan mengairi waduk Saguling. Sedikit share foto dari saya, inilah dia (gear Canon 70D dan lensa Sigma 17-70mm) :

 

Advertisements

Beginilah waduk Jatiluhur kala kemarau

Waduk Jatiluhur yang merupakan bendungan terbesar di Indonesia, punya volume waduk terbanyak dan area paling luas ini juga tak luput dari dampak kekeringan akibat El-Nino. Sampai September 2015 tinggi permukaan air menurun drastis hingga bibir ‘pantai’ juga ikut berubah menjadi jauh ke tengah. Berikut jepretan saya yang menggambarkan suasana sekitar waduk saat kekeringan, semoga hujan cepat turun ya..

Foto-foto diambil pakai Lumix GM1, kecuali foto terakhir (paling bawah).

P1080313 cr

P1080316 cr P1080329 cr P1080334 cr P1080354 cr P1080301 cr

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Olympus E-PL5 with M.Zuiko 9-18mm lens

Garut, keindahan alam nan mempesona

Siapa yang tak kenal kota Garut, yang dulu kerap dijuluki Swiss van Java? Kota yang juga terkenal akan dodolnya, juga domba dan mojangnya, ehm.. Bicara keindahan alam di Garut maka tak lepas dari keberadaan gunung-gunung di sekelilingnya seperti Cikuray, Papandayan dan Galunggung. Saat jalan-jalan singkat menjelajah Garut, fokus saya ditujukan ke tiga spot utama yaitu Talaga Bodas, Curug Orok dan Kawah Kamojang.

Talaga Bodas, sebuah kawah yang masih mengeluarkan bau belerang mirip di kawah putih, ternyata tidak semudah yang saya bayangkan untuk didatangi. Beruntung mobil Avanza matic yang saya tumpangi bisa mencapai lokasi Talaga Bodas, walau dengan rasa kasihan sama suspensinya. Betapa tidak, jalan menuju ke sana kira-kira 5 km bisa dibilang rusak, sempit dan sulit saat berpapasan. Tapi hamparan ladang dan kebun di sepanjang perjalanan membuat sejuk mata dan sejenak lupa akan sulitnya medan yang dilalui.

Setiba di lokasi, ada sedikit insiden kurang menyenangkan. Tukang ojek yang mangkal di lokasi menawarkan jasa antar dari parkiran ke telaga, pulang pergi. Setelah deal harga sebelum berangkat, ternyata pas pulangnya saat membayar dimintai tarif 2x lipat dengan alasan sudah biasa harga segitu. Masalahnya bukan nilai uangnya tapi cara mereka mencari nafkah dengan menjebak wisatawan itu yang disesalkan. Btw inilah pemandangan di telaga bodas.

Bila telaga bodas berada di timur kota Garut, maka besoknya kami beralih ke selatan Garut menuju Cikajang. Tujuan saya adalah ke Curug Orok, yang terkenal dan relatif mudah diakses. Pemandangan kebun teh PTPN VIII terhampar luas menyambut kedatangan kami, akses jalan cukup bagus hanya sedikit jelang lokasi masih kurang baik aspalnya. Sebelum tiba di lokasi, saya memotret Cikuray dari kejauhan :

Air terjun Curug Orok :

Puas memotret air terjun, saya beralih ke utara, mengambil rute jalan Samarang lalu belok ke Kamojang. Lokasi yang dituju berada di kaki gunung Guntur, kira-kira di sebelah barat Garut. Disana saya mendatangi pembangkit geotermal dan masuk ke kawasan wisata kawah Kamojang. Salah satu spot menarik adalah kawah kereta api yang menyemburkan uap bertekanan tinggi dan dengan bantuan pak tua disana uap tersebut bisa berbunyi seperti kereta api. Inilah pak tua dengan gaya khasnya :